Profile

K.H. Bukhori Yusuf , Lc. M.A. kelahiran Jepara, 5 Maret 1965 ini adalah seorang politisi Indonesia yang saat ini menjabat sebagai anggota legislatif DPR RI komisi VIII dari Fraksi PKS periode 2019-2024. Kegigihannya dalam berkampanye berhasil membuatnya memperoleh suara sebanyak 52.790 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah I meliputi Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Kendal. Bukhori Yusuf merupakan salah satu dari 5 kader PKS berasal dari Jawa Tengah yang berhasil melenggang ke DPR RI. Sebelumnya, Bukhori pernah menjabat sebagai anggota legislatif DPR RI di komisi III periode 2009-2014 mewakili dapil Sumatera Selatan II dan juga pernah menjabat sebagai anggota Lembaga Pengkajian MPR RI sejak tahun 2015 hingga 2019 kemarin.

Bukhori Yusuf menikah dengan seorang wanita bernama Rosita Komala Dewi. Hasil dari pernikahannya, Bukhori telah dikaruniai 4 orang anak yang terdiri dari sepasang putra dan putri. Saat ini Bukhori tinggal di kediamannya yang berlokasi di Jalan Joglo Baru/ SMU 101 RT 11/06 No. 51 Joglo Kembangan, Jakarta Barat.

Bukhori memiliki perhatian yang serius terhadap pendidikan dan pengajaran ilmu agama. Hal ini dibuktikan dengan riwayat pendidikan yang ia tempuh seperti Jurusan Syariah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPA) dan kursus program Bahasa Arab yang diselenggarakan oleh instansi yang sama. Selain mengenyam pendidikan di dalam negeri, Bukhori juga berkesempatan menempuh pendidikannya di luar negeri. Pada tahun 1988, ia menempuh studi dengan mengambil Jurusan Ilmu Hadis dan Studi Islam di Universitas Islam Madina, Arab Saudi. Selepas menuntaskan studi sarjana, Bukhori melanjutkan studi pascasarjana di Wifaq Madaris Salafiyah, Pakistan dan Universitas Muhammadiyah Jakarta mengambil studi konsentrasi Hukum Islam.

Bukhori percaya bahwa salah satu ikhtiar untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang berhasil ia peroleh adalah dengan mengamalkannya (Ilmu Amaliyah). Hal tersebut ia buktikan dengan kegiatan mengajar yang ia lakukan di sejumlah instansi pendidikan. Ia tercatat pernah menjadi dosen di Universitas Mercu Buana dan Sekolah Tinggi Ilmu Usluhudin Dirasat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta. Selain berperan sebagai pendidik, Bukhori juga pernah mengemban amanah strategis di beberapa instansi pendidikan. Pada tahun 2005, Ia diangkat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Usluhudin (STIU) Dirasat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta. Masih pada tahun yang sama, ia juga menjabat sebagai pengasuh SMP IT Boarding School Insan Mubarak sekaligus Ketua Yayasan Al Mubarak di Kembangan Jakarta Barat.

Jiwa kepemimpinan Bukhori sudah terlihat sejak ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Disamping kegiatan belajar, Ia turut aktif terlibat di kegiatan organisasi. Awal karir organisasinya bermula ketika ia ditunjuk sebagai Ketua OSIS MTs Walisongo, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah pada tahun 1981 kemudian berlanjut sebagai Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Anak Cabang Pecangaan dan Ranting Karangrandu, Jepara pada tahun 1986. Performa kepemimpinannya semakin terasah ketika ia memasuki dunia perkuliahan. Pada tahun 1990, ia memperoleh amanah sebagai Ketua Pelaksana Daurah Musim Semi bagi mahasiswa Indonesia di Arab Saudi. Sepulangnya ke tanah air, Bukhori melanjutkan aktivitas berorganisasinya di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Syariah Pusat PKS (2005-2010), Direktur Eksekutif Dewan Syariah Pusat PKS (2011-2012), dan yang terbaru sebagai Ketua Badan Perencanaan DPP PKS sejak tahun 2012.

Selain dikenal sebagai politisi, Bukhori dikenal oleh masyarakat sebagai tokoh ulama. Disela kesibukannya di parlemen, pria yang memiliki hobi membaca dan bersepeda ini turut terlibat aktif dalam kegiatan dakwah di masyarakat. Bukhori kerap diundang sebagai narasumber untuk mengisi acara pengajian di sejumlah masjid di Jakarta maupun di Jawa Tengah.

Bukhori adalah salah satu anggota dewan yang memiliki komitmen tinggi pada upaya advokasi masyarakat melalui jalur parlemen. Salah satunya adalah keprihatinannya pada isu pelanggaran hak anak dan kekerasan terhadap perempuan. Merespon hal tersebut, anggota komisi VIII DPR RI ini mendesak pemerintah untuk bekerja secara efektif dan sinergis dalam menyentuh akar dari masalah tersebut, yaitu keluarga. Bahkan ia mengusulkan agar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) diperkuat melalui penambahan Satuan Kerja (Satker) Deputi Bidang Ketahanan Keluarga.

Selain memiliki perhatian serius pada isu anak dan perempuan, Bukhori juga menaruh perhatian serius pada isu ideologi Pancasila. Hal tersebut dibuktikan dengan sikapnya yang tegas merespon polemik yang ditimbulkan Kepala BPIP yang menyatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila. Ia bahkan mendesak agar Presiden memecat Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, atas kontroversi yang ditimbulkan. Komitmennya yang tinggi terhadap isu ideologi negara turut membawanya pada kesempatan sebagai anggota penyusunan draft RUU Haluan Ideologi Pancasila.