Bukhori Bantu Renovasi Ratusan Rumah Warga Prasejahtera di Jawa Tengah

Semarang (24/08) — Anggota Komisi Sosial DPR RI Bukhori Yusuf mengaku prihatin dengan kondisi tempat tinggal sejumlah warga di daerah pemilihannya yang tidak layak huni.

Berangkat keresahan tersebut, politisi daerah pemilihan Jawa Tengah 1 (Semarang, Kendal, Salatiga) ini segera bergerak untuk mengadvokasi persoalan rumah tidak layak huni kepada Kementerian Sosial (Kemensos).

Kerja kerasnya tersebut tidak berakhir sia-sia. Upayanya lantas membuahkan hasil, dimana dirinya bisa memperoleh kuota bantuan RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) sebanyak 100 unit dari Kemensos guna diberikan bantuan renovasi. Saat ini, Bukhori dan tim tengah melakukan survei kepada sasaran yang memenuhi kriteria calon penerima manfaat.Continue reading

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Bukhori: Indonesia Bukan Negara Sekuler!

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama warga terus digencarkan oleh anggota MPR RI. Salah satunya dilakukan oleh Bukhori Yusuf yang juga menjabat sebagai Anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi PKS. Pada agenda sosialisasi kali ini diselenggarakan di Kota Salatiga dan turut dihadiri langsung oleh Wakil Walikota Salatiga, Muhammad Haris, Minggu (7/3/2021).

Pada kesempatan itu Bukhori menyampaikan pandangan strategisnya ihwal problematika kebangsaan dan keagamaan. Sebab, ia merasa prihatin dengan kondisi ketegangan antara wacana keagamaan dan kebangsaan yang terjadi belakangan ini.

Anggota Komisi Agama DPR ini menilai, kedudukan agama secara filosofis memiliki relasi yang integral dengan wacana kebangsaan sehingga tidak semestinya diposisikan dalam relasi yang saling berhadapan (antagonistik). Hal ini dibuktikan, salah satunya, dengan narasi Pembukaan UUD 1945 Alinea Ketiga yang mengandung muatan transendental sebagaimana ditegaskan melalui frasa “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”.Continue reading

Tinjau Banjir di Semarang, Bukhori: Pemerintah Harus Segera Bantu Dapur Umum dan Berdayakan Relawan Warga!

Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf menilai lemahnya kesiapan infrastruktur sebagai penyebab terjadinya banjir yang meluas di Kota Semarang. Secara rinci, ia mengurai persoalan infrastruktur tersebut dalam empat hal.

“Pertama, penyebab banjir di Semarang, tidak dipungkiri, salah satunya akibat pembangunan bong atau titik resapan di Semarang yang belum terealisasi,” ungkapnya selepas meninjau lokasi banjir di Kelurahan Banjarduwo Kecamatan Genuk Kota Semarang, Rabu (10/2/2021).

Politisi PKS ini menambahkan, saluran drainase di lingkungan masyarakat juga tidak sepenuhnya berjalan secara optimal. Tidak semua saluran pembuangan air tersebut bermuara ke Banjir Kanal Barat akibat tersumbat sampah. Hal itu juga yang menjadi faktor yang mendorong limpahan air hujan selama satu minggu terakhir menggenang cukup lama di permukaan karena tidak teralirkan ke muara yang semestinya.Continue reading

Kunjungi Korban Banjir Kota Semarang, Bukhori Salurkan Bantuan Dana dan Logistik

Anggota Komisi VIII DPR Bukhori Yusuf meninjau langsung lokasi terdampak bencana di Kota Semarang, Minggu-Senin (7-8/2/2021). Kunjungan tersebut dalam rangka penyaluran bantuan sekaligus memantau kesiapan daerah menghadapi bencana.

Di hari pertama Bukhori bersama Mensos Risma memantau secara langsung kegiatan warga gudang logistik sekaligus dapur umum di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan. Selain melakukan peninjauan, Bukhori turut menyerap aspirasi para relawan tagana dan masyarakat yang mengungsi di masjid setempat.

“Para relawan ini bekerja tanpa dibayar. Padahal jam kerja mereka hampir setiap saat dan nyawa mereka senantiasa terancam. Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan mereka,” ungkapnya.Continue reading

Bukhori Salurkan Bantuan Dana bagi Madrasah Terdampak Covid-19

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Bukhori Yusuf menyalurkan bantuan operasional pandemi kepada sejumlah pesantren, madrasah, dan TPQ di daerah pemilihannya yang meliputi Kota/Kabupaten Semarang, Kendal, dan Salatiga. Program bantuan tersebut berhasil terselenggara atas kerja sama dengan Kementerian Agama.

“Bantuan ini kami berikan sebagai bentuk perhatian kami pada lembaga pendidikan Islam, khususnya di Jawa Tengah. Fraksi PKS di DPR RI memiliki concern yang tinggi terhadap pengembangan SDM yang berakhlak karimah melalui proses pendidikan di madrasah. Di satu sisi, kita juga memahami bahwa mereka yang menempuh pendidikan di madrasah tidak sepenuhnya datang dari kalangan mampu” ungkap Bukhori di hadapan konstituen ketika acara penyerahan bantuan di Salatiga, Minggu (13/9/2020).

Ia menambahkan, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi madrasah adalah tulang punggung (backbone) bagi operasional instansi pendidikan tersebut. Akan tetapi, sejak pandemi merebak Kementerian Agama justru sempat mengeluarkan kebijakan memangkas anggaran tersebut dengan dalih penanganan Covid-19.

“Pemangkasan tersebut dilakukan di luar persetujuan Komisi VIII DPR, karenanya kami tolak. Konsekuensinya, raker yang semestinya membahas anggaran, akhirnya kami tunda sampai Menag bersedia mengembalikan dana (red, BOS) yang sudah dipotong sebelumnya” sambungnya.Continue reading

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Bukhori: Sila Pertama Pancasila Dijiwai Oleh Piagam Jakarta

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Bukhori Yusuf menyatakan, Pancasila yang saat ini termaktub dalam pembukaan UUD 1945 adalah Pancasila yang dijiwai oleh sila pertama pada Piagam Jakarta yang dirumuskan pada 22 Juni 1945. Menurutnya, hal ini berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali kepada UUD 1945.

“Dalam sejarahnya, proses perumusan dasar negara kita mengalami banyak dinamika. Ketidakmampuan Badan Konstituante saat itu untuk menyusun UUD baru sebagai pengganti UUD Sementara 1950 akhirnya membuat Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dalam Dekrit tersebut secara tertulis memutuskan untuk kembali pada UUD 45 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945” jelas Bukhori dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Semarang, Minggu (5/7/2020).

Artinya, sambung Bukhori, sila pertama yang kita kenal saat ini secara esensi bermakna Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya atau dengan kata lain dijiwai oleh Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Sebab itu, sila ketuhanan harus mewarnai dan menjiwai sila-sila setelahnya.

“Walaupun negara kita bukan negara agama, akan tetapi sangat menghargai dan menghormati kedudukan agama sebagai pondasi kehidupan bernegara. Oleh karenanya, Indonesia adalah negara yang berketuhanan sebagaimana didasarkan pada Pasal 29 ayat 1 UUD 45 yang menyebutkan bahwa Negara berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa” ujarnya

Dalam kesempatan tersebut, ia juga sempat menyinggung terkait polemik RUU HIP. Koordinator Panja Pembahasan RUU HIP Fraksi PKS ini menyatakan bahwa dalam penyusunan RUU yang tidak memperhatikan aspirasi publik sangat berpotensi menjadi multitafsir di masyarakat. Di samping itu, dalam penyusunan suatu produk hukum seperti rancangan undang-undang juga perlu memperhatikan aspek sejarah dan fakta sosial.

“Dalam proses bernegara kita punya sejarah. Tragedi Madiun 1948 dan 1965 adalah contoh upaya yang pernah terjadi untuk merongrong Pancasila. Sehingga, kita tidak boleh ahistoris dan mengabaikan fakta sosial (asosial) dalam menyusun produk hukum terkait ideologi. Salah satunya, dengan tidak memasukannya TAP MPRS No.25/1966 Tentang Pembubaran PKI dalam penyusunan RUU HIP” jelas Anggota Komisi VIII DPR ini.

“Sebagai konsekuensi, pengabaian terhadap fakta sejarah dan sosial tersebut di kemudian hari akan menimbulkan banyak tafsir di masyarakat, salah satunya adalah anggapan publik bahwa RUU ini akan mengubah Pancasila. Oleh sebab itu, sejak awal Fraksi PKS sudah menolak” sambungnya.

Lebih lanjut, politisi dapil Jateng I ini turut mendorong masyarakat, khususnya para peserta yang hadir untuk proaktif dan kritis dalam menyikapi segala isu yang terjadi khususnya terkait isu ideologi Pancasila. Menurutnya, partispasi aktif publik dalam mengawal penyelenggaraan negara akan mendorong kebijakan publik yang aspiratif yakni kebijakan yang terselenggara atas dasar kehendak rakyat.

“Kita tidak boleh apatis. Setiap warga negara memiliki tanggungjawab untuk menjaga bangsa dan negaranya dari segala upaya untuk merongrong Pancasila sebagai dasar negara kita. Oleh sebab itu, sangat penting keterlibatan saudara sekalian dalam mengawal, mengkritisi, dan mendorong penyelenggaraan negara dalam menghasilkan produk kebijakan yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, salah satunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” pungkasnya.

referensi: https://fajar.co.id/2020/07/05/sosialisasi-pilar-kebangsaan-bukhori-sila-pertama-pancasila-dijiwai-piagam-jakarta/

http://m.voa-islam.com/news/politik-indonesia/2020/07/05/72700/bukhori-yusuf-sila-pertama-pancasila-dijiwai-oleh-piagam-jakarta/

https://matabangsa.com/2020/07/06/sosialisasi-4-pilar-kebangsaan-dpr-ri-bukhori-sila-pertama-pancasila-dijiwai-piagam-jakarta/

Bukhori Tegaskan 4 Pilar Menjadi Pondasi Masyarakat

Semarang, Anggota MPR RI fraksi PKS Bukhori mengatakan bahwa 4 pilar dalam kehidupan berbangsa menjadi sebuah pondasi yang kuat bagi masyarakat, “Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama dan budaya, sehingga 4 pilar menjadi tiang penyangga yang kokoh,” ungkap Bukhori dalam acara sosialisasi 4 pilar di Kota Semarang, Selasa (4/2/20).Continue reading