UU Cipta Kerja dan Potensi Ancaman bagi Moral Bangsa

Bukhori Yusuf, Lc., M.A. (Anggota Baleg DPR RI Fraksi PKS)

Moral adalah nilai (value) yang berkenaan dengan perilaku, ucapan, maupun pola pikir manusia terhadap sesamanya dan dipengaruhi oleh tatanan sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat. Dalam terminologi agama, moral kerapkali dikaitkan dengan akhlak, yakni wujud perbuatan maupun ucapan yang menampilkan budi pekerti yang luhur. Dalam prosesnya, pembentukan moral individu sesungguhnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah lingkungan sosial. Pada sisi lain, ekosistem lingkungan sosial ini terdiri dari sejumlah variabel pembentuk, antara lain yakni institusi pendidikan, keluarga, pergaulan, dan media massa.

Guru Besar FIB UI, MT Hardjatno pernah menurunkan satu artikel menarik dalam surat kabar Media Indonesia edisi Oktober 2018 dengan judul Peran Media sebagai Penjaga Moral. Dalam artikel tersebut ia menjelaskan, media bisa digunakan oleh pemiliknya, yang biasanya bermodal besar, untuk menentukan apa dan bagaimana mereka hendak memengaruhi alam bawah sadar kolektif suatu masyarakat. Pada gilirannya, masyarakat yang terbiasa terpapar oleh tayangan yang telah diatur sedemikian rupa akan menjalankan apa yang dikehendaki oleh kekuatan yang menguasai media tersebut. Artinya, bisa dikatakan bahwa kedudukan media memiliki pengaruh signifikan terhadap kontribusi pembentukan konstruksi budaya, perilaku, maupun cara pandang masyarakat terhadap sesuatu.Continue reading

UU Cipta Kerja, Kedaulatan SDM, dan Ketersediaan Pangan

Jakarta – Omnibus Law UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan menyimpan potensi ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Terdapat dua isu utama yang menjadi sorotan Fraksi PKS, yakni kedaulatan sumber daya manusia (SDM) dan kedaulatan sumber daya alam (SDA).

Pertama, isu terkait kedaulatan SDM, dalam hal ini kedudukan kaum pekerja yang terancam dieksploitasi oleh kaum pemilik modal. Harga diri bangsa kita, khususnya para kaum pekerja, terancam diinjak-injak oleh kepentingan kaum kapitalis yang tengah bersorak sorai. Mereka tengah bersuka cita karena pada akhirnya bisa mengisap habis tenaga kaum buruh di segala jenis pekerjaan tanpa terkecuali melalui status kontrak seumur hidup. Alhasil, sangat mungkin bangsa kita berpotensi menjadi budak di negeri sendiri.

Sebagai contoh, melalui UU Cipta Kerja ketentuan outsourcing (pemborongan pekerjaan) bisa diterapkan di semua jenis pekerjaan. Padahal dalam UU eksisting, hanya dibatasi di 5 jenis pekerjaan. Dalam Pasal 65 UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, ketentuan terkait outsourcing) dapat dilakukan sepanjang memenuhi syarat berikut: (1) dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama; (2) dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan; (3) merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan; (4) tidak menghambat proses produksi secara langsung.

Celakanya, Omnibus Law UU Cipta Kerja justru menghapus pasal tersebut yang memberikan batasan terhadap outsourcing ini. Konsekuensinya, outsourcing bisa bebas diterapkan di semua jenis pekerjaan tanpa terkecuali. Sebenarnya, dalam UU 13 Tahun 2003, outsourcing hanya dibatasi di 5 (lima) jenis pekerjaan (cleaning service, keamanan, transportasi, catering, dan jasa migas pertambangan) sebagaimana telah diatur dalam Pasal 66 Ayat (1) berbunyi:Continue reading

Insiden Vandalisme dan Perusakan Rumah Ibadah: Darurat Perlindungan Simbol Agama

Bukhori Yusuf, Lc., M.A.

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS

Hari Selasa 29 September 2020, sebuah musala di Perumahan Villa Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten menjadi target perusakan dan aksi vandalisme. Di lokasi, tampak beberapa coretan pylox dengan tulisan provokatif yang mengotori sejumlah dinding musala. Tidak hanya itu, sejumlah sobekan kertas Alquran juga ditemukan berserakan di lantai bersamaan dengan potongan sajadah yang sebelumnya telah tergunting secara acak. Ironisnya, aksi vandalisme ini hanya terpaut kurang dari satu minggu setelah insiden serupa terjadi di Jawa Barat.

Pada 23 September 2020, masjid di Kecamatan Coblong, Kota Bandung juga menjadi target perusakan oleh oknum warga yang diklaim gila. Tidak hanya itu, pelaku juga turut melayangkan ancaman pembunuhan terhadap pengurus masjid yang memergoki ulah pelaku di lokasi. Meskipun demikian, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan hanya menyebabkan kerugian materil, yakni beberapa kaca masjid yang pecah akibat lemparan batu. Melihat kembali beberapa bulan ke belakang, tepatnya 29 Januari 2020, kita juga pernah disuguhi peristiwa serupa yang menimpa musala Al-Hidayah di Minahasa Utara.

Lembaga pemantau HAM Imparsial mencatat sepanjang tahun 2019, telah terjadi 31 pelanggaran kebebasan beragama dan beribadah yang terjadi di 15 provinsi di Indonesia. Dari angka statistik tersebut, 14 diantaranya berupa insiden pelarangan pendirian tempat ibadah dan perusakan tempat ibadah. Mirisnya, rentetan insiden perusakan rumah ibadah tersebut terjadi dalam rentang waktu yang bahkan belum genap satu tahun. Artinya, fenomena ini menunjukan betapa rentannya simbol agama sebagai identitas kelompok agama menjadi objek kekerasan sehingga sangat potensial menjadi bom waktu bagi meletusnya konflik horizontal di masa mendatang.Continue reading

Insiden Penusukan Syaikh Ali Jaber: Darurat Perlindungan Tokoh Agama

Oleh: Bukhori Yusuf, Lc., M.A.

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS

Acara wisuda perdana tahfiz Taman Pendidikan Alquran sekaligus perayaan tahun baru Islam 1442 H di Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung seketika berubah gaduh dan mencekam. Sebilah pisau terlihat telah menancap di lengan kanan Syaikh Ali Jaber, sosok ulama yang dikenal moderat oleh kalangan masyarakat sampai elit pemerintah. Tak ayal, mendapati kabar tersebut, Menkopolhukan Mahfud MD segera menginstruksikan seluruh aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus penusukan tersebut.

Sesungguhnya insiden kekerasan yang menyasar ulama atau tokoh agama ini tidak terjadi untuk pertama kalinya. Menurut data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) tercatat telah terjadi peristiwa kekerasan berdimensi agama dan keyakinan sebanyak 75 kasus sepanjang tahun 2017.

Sementara, berdasarkan data Bareskrim Polri pada Februari 2018, terdapat 21 peristiwa kekerasan yang menimpa korban tokoh agama. Kasus tersebut diantaranya terjadi di Aceh, Banten, DKI Jakarta, Yogyakarta, Sumatera Selatan dan Jawa Timur. Sementara di Jawa Barat menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 13 kasus.

Ironisnya, tindakan kekerasan tersebut tidak hanya menimbulkan luka cedera yang parah terhadap korban, akan tetapi ada yang sampai berakibat pada kematian sebagaimana menimpa Ustaz Prawoto (Pengurus Ormas Islam Persis) di Bandung yang dianiaya hingga tewas.Continue reading

Pemberantasan Korupsi dalam Pidato Jokowi Hanya Delusi?

Oleh: Bukhori Yusuf, Lc., M.A.

Tulisan ini merupakan sekuel lanjutan atas respon terhadap pidato kenegaraan Presiden pada Jumat lalu (14/8). Tulisan kedua ini secara khusus mencoba untuk membedah kelemahan narasi pidato Presiden, khususnya pada aspek pemberantasan korupsi. Dalam tulisan sebelumnya, kritik saya menyasar pada tata kelola dan efektivitas dari pelbagai jaring pengaman sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi akibat pagebluk sampai menguatnya fenomena dinasti politik yang mengancam demokrasi. Pada bagian terakhir ini saya mencoba mengukur seberapa jauh komitmen pemerintah dalam pemberantasan korupsi saat diejawantahkan dalam tataran riil melalui sejumlah kebijakan yang telah diambil.

Terkait isu korupsi dan penegakan hukum, terdapat bagian krusial dalam pidato Presiden Jokowi pada kalimat berikut:

Pemerintah tidak pernah main-main dengan upaya pemberantasan korupsi. Upaya pencegahan harus ditingkatkan melalui tata kelola yang sederhana, transparan, dan efisien. Dan hukum harus ditegakan tanpa pandang bulu..”Continue reading

Jauh Panggang Dari Api: Respon Atas Pidato Kenegaraan Presiden

Oleh: Bukhori Yusuf, Lc., M.A.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS

Sebelumnya, saya perlu menyampaikan apresiasi kepada segenap pihak atas keberhasilan penyelenggaraan sejumlah agenda besar kenegaraan yang diselenggarakan di Gedung DPR/MPR pada Jumat lalu. Agenda berlangsung khidmat dan aman meskipun di tengah situasi pandemi.

Sesi penyampaian pidato kenegaraan Presiden merupakan salah satu agenda kenegaraan yang menjadi sorotan publik. Dengan mengenakan pakaian khas Nusa Tenggara Timur, Presiden Jokowi tampil menyampaikan sejumlah pesan positif kepada masyarakat sekaligus melaporkan beberapa capaian kinerja pemerintah yang telah dilakukan sejauh ini.

Pada bagian ini, saya benar-benar mencermati betul setiap kata dan kalimat yang Presiden sampaikan sekaligus menggali secara mendalam terkait kebenaran atas apa yang Presiden sampaikan dalam pidatonya. Atau lebih tepatnya, atas apa yang disuguhkan oleh orang-orang di sekeliling Presiden sebagai bahan dari teks pidato tersebut. Sebab, dalam satu dua hal, saya tidak bisa menerima klaim yang disampaikan oleh Presiden sepenuhnya  jika dikontekstualisasikan dengan kondisi faktual di lapangan. Continue reading

Pendiri PKS Wafat, Bukhori: Kami Kehilangan Sosok Teladan

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Bukhori Yusuf mengungkapkan rasa belasungkawanya yang mendalam atas wafatnya Ustaz Hilmi Aminudin, pendiri PKS sekaligus mantan Ketua Majelis Syuro PKS. Ia menyatakan rasa kehilangannya sesaat setelah mengetahui kabar duka tersebut.

“Sejujurnya, kami sangat terkejut mengetahui kabar tersebut. Kami merasa sangat kehilangan mengingat beliau adalah guru, orangtua, sekaligus teladan kami” ungkap Bukhori.Continue reading

Menyelesaikan Pekerjaan Rumah Sebelum “New Normal”

Oleh:
Bukhori Yusuf, Lc., MA

anggota Komisi VIII DPR RI 2019-2024

Jakarta – Pemerintah mewacanakan untuk segera merealisasikan konsep new normal sebagai respons untuk melakukan tindakan pemulihan ekonomi di tengah pandemi pada Juni ini. Keputusan itu sebenarnya cukup logis mengingat pemulihan ekonomi dengan segera menjadi hal yang harus segera direalisasikan (extraordinary decision) di tengah anggaran negara yang terus terkuras untuk upaya recovery namun minim pemasukan karena matinya sejumlah sektor strategis.Continue reading

Saatnya Karantina Wilayah Jakarta!

Oleh: Bukhori Yusuf, Lc., M.A.

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS

Perkembangan kasus Covid-19 semakin mencemaskan. Belum terlihat tanda bahwa wabah ini akan segera mereda mengingat dari waktu ke waktu jumlah pasien semakin bertambah. Menurut data terbaru dari pemerintah pusat secara nasional, per 29 Maret 2020 tercatat; 1.285 kasus postif, 114 meninggal, dan 64 sembuh. Sedangkan dari data resmi DKI per 28 Maret 2020 yang dirilis di corona.jakarta.go.id  tercatat 701 kasus positif,  67 meninggal, dan 48 sembuh.Continue reading

Menimbang Keseriusan Negara dalam Penanganan Covid-19

Jumlah pasien Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan tajam. Pada kasus awal per 2 Maret 2020, hanya terdapat dua kasus pasien yang dikonfirmasi positif Covid-19. Namun jumlah tersebut mengalami lonjakan drastis per 17 Maret 2020 dengan total 172 kasus. Selain mengalami peningkatan secara kuantitas, kasus Covid-19 juga mengalami perkembangan secara sebaran kasus di sejumlah wilayah. Menurut Jubir Penanganan Covid-19, sebaran kasus tersebut tercatat di DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kepuluan Riau.Continue reading